You Are Enter To "The ZONE of CHANGE'S"

Every Thing's Can Be Change's, So You Can Be Change's Also
To Be The Best!

Perubahan Bukanlah Sesuatu Yang Mungkin Bagi Anda,
Perubahan Adalah Sesuatu Yang Pasti Dari Allah Untuk Anda!











Senin, 21 Juni 2010

KESABARAN (bagian ke-tiga)


Mental Tahan Uji Menghasilkan
Ketegaran Hati Untuk Tidak Mudah Menyerah!

Kesabaran Pertama:
"Mental Tahan Uji Yang Menghasilkan
Karakter Yang Tidak Tergesa-gesa!"

Kesabaran Ke-Dua:
"Mental Tahan Uji Yang Menghasilkan
Karakter Yang Tabah!"



Kesabaran adalah suatu kekuatan jiwa yang membuat seseorang tahan uji dalam menghadapi berbagai proses pergumulan kehidupan yang berat, sehingga membentuk karakter yang tabah, tenang, tidak tergesa-gesa dan tidak mudah patah hati!

Minggu 30 Mei 2010, telah kita pelajari bersama pengertian kesabaran yang pertama adalah mental tahan uji yang menghasilkan karakter yang TIDAK TERGESA-GESA. Minggu 06 Juni 2010, kita memahami pengertian kesabaran yang ke-dua adalah mental tahan uji yang menghasilkan karakter yang TABAH! Kita akan melanjutkan pembelajaran dari Firman TUHAN untuk memahami kesabaran adalah suatu kekuatan jiwa yang membuat seseorang tahan uji dalam menghadapi berbagai proses pergumulan kehidupan yang berat, sehingga membentuk karakter yang “TIDAK MUDAH MENYERAH” atau “TEGAR!”.

Pengertian ke-tiga tentang kesabaran adalah mental tahan uji yang menghasilkan karakter yang tidak mudah menyerah atau tegar! Ada beberapa judul film yang cukup inspiratif dalam hal ketegaran hati untuk mewujudkan sesuatu yang diyakini walaupun ada berbagai macam tantangan tetapi tidak mudah menyerah. Katakanlah itu film “300” yang menceritakan ketegaran hati seorang raja yang bernama Leonard yang memimpin 300 prajurit Spartan yang gagah berani. Mereka sungguh tegar dan tidak mudah menyerah walaupun melawan ribuan pasukan kerajaan Persia, dengan sebuah komitmen yang kuat, yaitu “tidak akan memberikan tanah dan air mereka kepada kerajaan Persia!” Memang perjuangan kita masing-masing berbeda, namun ada satu hal yang harus sama diantara kita, yaitu ketegaran hati untuk “TIDAK MUDAH MENYERAH terhadap semua masalah dan pergumulan kehidupan yang harus kita hadapi!” Marilah kita mengamati bersama beberapa prinsip ketegaran hati untuk tidak mudah menyerah terhadap sebuah prinsip yang kita yakini dan yang diharapkan TUHAN.

Pertama, ketegaran hati untuk tidak mudah menyerah agar hidup sesuai dengan Firman TUHAN. Semasa pemerintahan raja Ahab Kerajaan Israel di tanah Samaria selama 22 tahun lamanya, ia menikah dengan seorang perempuan penyembah Baal sehingga ada begitu banyak kuil-kuil penyembahan Baal di sekitar tanah Israel. Ahab dikelilingi juga dengan 450 nabi Baal dan nabi Asyera 400 yang sering memberikan petunjuk kepadanya, serta dijamin hidup mereka oleh raja Ahab. Sementara berbanding terbalik hanya ada 1 nabi TUHAN, Elia, yang sungguh-sungguh hidup sesuai Firman TUHAN! Walaupun hanya seorang diri tetapi Elia memiliki ketegaran hati yang kuat untuk tidak mudah menyerah agar hidupnya tetap sesuai dengan Firman TUHAN. Ia-pun mengadakan suatu bentuk peperangan rohani menentang 450 Nabi Baal dan 400 nabi Asyera, agar seluruh rakyat Israel akan kembali menyembah TUHAN! Akhirnya terbukti, bahwa Baal dan Asyera tidak menjawab nabi-nabinya! 1 Raja-Raja 18:36 mencatat doanya Elia, “Ya TUHAN, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah di tengah-tengah Israel dan bahwa aku ini hamba-Mu dan bahwa atas firman-Mulah aku melakukan segala perkara ini.” Doa Elia dijawab TUHAN dengan turunya api dan menyambar habis; kayu, batu mesbah, seluruh daging lembu sapi, bahkan air yang disirampun dijilat habis oleh Api TUHAN! Sungguh terbukti, bahwa TUHAN membela orang yang memiliki keteguhan hati untuk tidak mudah menyerah dengan segala tantangan yang dihadapi sehingga ia tetap hidup sesuai Firman TUHAN!

Ayub-pun menyatakan dibalik pergumulan kehidupan yang dialaminya (Ayub 27:6): “Kebenaranku kupegang teguh dan tidak kulepaskan; hatiku tidak mencela sehari pun dari pada umurku.” Dalam Mazmur 27:14 raja Daud menghimbau, “Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN!” Dan Mazmur 31:25 mengatakan, “Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua orang yang berharap kepada TUHAN!” Dalam sebuah peperangan rohani memanglah tidak mudah tetapi Mazmur 25:3 mentakan, “Ya, semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu; yang mendapat malu ialah mereka yang berbuat khianat dengan tidak ada alasannya.

Kedua, ketegaran hati untuk tidak mudah menyerah agar tidak berkompromi dengan dosa. Dalam masa pemerintahan raja Yosafat di Yehuda, ia dikenal raja yang “tabah hati hidup di jalan TUHAN dan menjauhkan rakyat Israel di Yehuda dari segala bentuk penyembahan berhala!” Ia pernah diajak oleh Ahab untuk pergi bersama memerangi bangsa Aram di Ramot-Gileat. Tetapi Yosafat lebih dulu meminta petunjuk TUHAN melalui para nabi yang ada di dataran Kerajaan Utara, Israel, sebelum ia mengambil keputusa. Ada 400 nabi yang memberi penegasan pergi berperang, tetapi hanya ada 1 nabi, Mikha, yang tidak berkompromi dengan kedustaan yang ada pada 400 nabi, sehingga ia mengatakan hal yang sebenarnya, yaitu bila mereka pergi perperang maka Ahab akan mati! Nabi Mikha sempat dihasut (2Tawarikh 18:12-13) untuk berkompromi dengan 400 nabi yang telah memberikan penegasan untuk Ahab pergi berperang, tetapi Mikha memiliki ketegaran hati untuk tidak mudah menyerah sehingga berkompromi dengan dosa! Ia menjawab mereka (ayat 13) "...Demi TUHAN yang hidup, sesungguhnya, apa yang akan difirmankan Allah, itulah yang akan kukatakan!" 
Paulus pernah menegaskan bagi orang-orang di Galatia (Galatia 1:11), “....bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia.” Yang dimaksudkan dengan ‘injil manusia’ adalah kabar baik yang berasal dari manusia. Suatu berita yang berasal dari manusia dan berusaha untuk mengambil hati manusia atau memikat hati manusia. Yesus Kristus mengatakan dalam Matius 10:16 "Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” Namun dalam ayat selanjutnya Matius 10:19 Yesus Kristus menegaskan, “Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga.

Ketiga, ketegaran hati untuk tidak mudah menyerah agar tetap hidup sesuai rencana Bapa Sorgawi. Kemampuan Yesus Kristus sebagai manusia sejati, sungguh teruji dalam ketegaran hatinya untuk menghadapi berbagai tantangan dan cobaan yang sanggup menggagalkan rencana Bapa dalam diri-Nya. Iblis sempat mencobai-Nya di padang gurun, masyarakat sekitar tempat kelahiran-Nya meragukan Yesus berasal dari benih ilahi, para ahli Taurat memberikan perlawanan yang sangat jelas dan tegas meragukan bahwa Ia adalah Anak Allah, ditambah lagi murid-Nya sendiri mengkhianati-Nya.
Tetapi semua pengalaman penolakkan demi penolakkan tersebut tidak menggoyahkan hati Yesus Kristus untuk tetap tegar dan tidak menyerah sehingga Ia tetap fokus dalam rencana Bapa Sorgawi.

Hidup dalam rencana Bapa Sorgawi memanglah tidak semudah yang kita pikirkan, kadang kala rencana tersebut membawa kita dalam berbagai bahaya, bahkan dilematis kehidupan, masalah lepas masalah silih berganti bagaikan ombak yang tidak pernah habis menghempas pantai. Hal itulah yang juga dialami oleh rasul Paulus. Ketika TUHAN memberitahukan baginya bahwa ia akan dibawa TUHAN menginjil ke Roma sebagai seorang tawanan, Paulus tidak patah hati, ia tidak menyerah bahkan sebaliknya ia berserah! Setelah nabi Agabus menegaskan rencana TUHAN baginya bila ia ke Yerusalem, ia akan menjadi seorang tawanan dan mereka mencegah Paulus, sebaliknya Paulus mengatakan dalam Kisah Para Rasul 21:13Mengapa kamu menangis dan dengan jalan demikian mau menghancurkan hatiku? Sebab aku ini rela bukan saja untuk diikat, tetapi juga untuk mati di Yerusalem oleh karena nama Tuhan Yesus.

Kehidupan yang sementara kita alami saat ini, tidak menjanjikan suatu keadaan yang tetap aman-aman saja. Kadang kita akan diperhadapkan dengan situasi yang akan menggoyahkan pendirian kita, tetapi percayalah TUHAN tidak pernah meninggalkan orang yang senantiasa memiliki ketegaran hati untuk tidak mudah menyerah hidup dalam seluruh kehendak-Nya. Amsal 23:11 mengatakan, “Karena penebus mereka kuat, Dialah yang membela perkara mereka melawan engkau.” Bila Anda menemukan kerapuhan hati Anda, dalam berbagai masalah yang Anda hadapi, sementara Anda juga masih menyangsikan kekuatan kuasa TUHAN yang menyanggupkan Anda untuk tetapi kuat dan tegar untuk hidup sesuai Firman TUHAN, jadikanlah Mazmur 51:12 sebagai doamu:  "Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!"

Sahabatku, percayalah bahwa PENEBUS KITA KUAT! Ia tidak akan membiarkan diri kita terus ditindas ketika kita ingin berdiri tegar di atas kebenaran Firman TUHAN. Akhirnya Firman TUHAN menasehati kita semua dalam surat Efesus 6:10 "Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam TUHAN, di dalam kekuatan kuasa-Nya!"




Perubahan bukanlah sesuatu yang mungkin bagi Anda,
peruabahan adalah sesuatu yang pasti bagi Allah untuk Anda!
Salam Perubahan Sahabatku, "CHANGE'S, Yes We Can!"


Minggu, 06 Juni 2010

KESABARAN (bagian ke-dua).

Mental Tahan Uji Menghasilkan KETABAHAN.
(Bagian Ke-Dua)

(Lihat Bagian Pertama "Mental Tahan Uji Menghasilkan Karakter Tidak Tergesa-gesa")











Kesabaran adalah suatu kekuatan jiwa yang membuat seseorang tahan uji dalam menghadapi berbagai proses pergumulan kehidupan yang berat, sehingga membentuk karakter yang tabah, tenang, tidak tergesa-gesa dan tidak mudah patah hati!

Minggu 30 Mei 2010, telah kita pelajari bersama pengertian kesebaran yang pertama adalah mental tahan uji yang menghasilkan karakter yang tidak tergesa-gesa. Kita akan melanjutkan pembelajaran dari Firman TUHAN untuk memahami kesabaran adalah suatu kekuatan jiwa yang membuat seseorang tahan uji dalam menghadapi berbagai proses pergumulan kehidupan yang berat, sehingga membentuk karakter yang tabah.

Pengertian ke-dua tentang kesabaran adalah mental tahan uji yang menghasilkan karakter yang 'TABAH'. Ketika Musa mempersiapkan 12 prajurit pasukan Allah untuk pergi mengintai Tanah Kanaan, ia memberikan nasehat, “Tabahkanlah hatimu...” (Bilangan 13:20). Kata ‘Tabah’ berasal dari akar kata Ibr. ‘Chazaq’ diartikan dalam bahasa Inggris ‘Courage’ dalam bahasa Indonesia ‘Keberanian’ atau ‘Keteguhan hati’. Suatu pelajaran yang menarik dalam peristiwa ini. Musa menasehati ke-dua belas pasukan Allah untuk agar mereka tabah, yaitu agar mereka tetap memiliki keberanian walaupun mereka hidup selama kurang lebih 40 hari lamanya diantara bangsa Kanaan. Musa menguatkan mereka agar mereka tetap memiliki hati yang teguh, pendirian yang teguh atau memiliki prinsip yang kuat ketika mereka mengamati keadaan disekitar Kanaan. Namun, hasil kenyataannya 10 orang pengintai, ketika mereka pulang, mereka tidak memiliki hati yang tabah, tidak memiliki keberanian untuk menyerang, mereka akhirnya kehilangan pendirian mereka untuk merealisasikan rencana TUHAN bagi mereka untuk menguasai Kanaan!

Cermatilah Jemaat TUHAN, kesabaran diperoleh melalui proses ujian hidup yang menghasilkan ketabahan dalam menghadapi setiap tantangan dalam realitas kehidupan. Seorang yang sabar adalah seorang yang tabah dalam menghadapi setiap pergumulan kehidupan dengan sikap hati yang penuh keberanian untuk hidup sesuai dengan rencana TUHAN, walaupun ia akan diperhadapkan dengan berbagai resiko penolakkan. Memang tidaklah mudah bagi Kaleb dan Yosua untuk berhadapan dengan 10 orang pengintai lainnya yang telah membiarkan ketakutan menguasai hati mereka dan menghasut seluruh bangsa Israel untuk tidak merebut Kanaan. Tetapi dalam situasi penolakkan demikian kaleb dan Yosua memiliki kesabaran untuk menghadapi mereka dengan sikap hati yang tabah dalam konflik internal tersebut, Kaleb menyatakan sikap hatinya yang penuh keberanian untuk merebut dan menduduki Kanaan, seperti yang tertulis dalam Bilangan 13:30Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: "Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!

Seorang yang sabar adalah adalah seorang yang tabah dalam menghadapi setiap pergumulan kehidupan dengan sikap pendirian hidupnya untuk berpegang teguh pada sesuatu yang diyakininya, dengan tidak memperdulikan realitas kehidupan yang bertentangan dari pengharapannya! Yosua sebagai salah satu dari pasukan pengintai tersebut, dengan sabar ia menghadapi hasutan negatif dari 10 pengintai lainnya untuk tidak merebut Kanaan. Ketabahan hatinya dalam menghadapi situasi tersebut dinyatakan dengan sikap hatinya yang berpegang teguh pada rencana TUHAN.

Situasi konflik tersebut membuat Musa dan Harun tidak dapat berkata-kata lagi dan mereka hanya sujud di depan seluruh bangsa Israel, tetapi Yosua dan Kaleb segera mengoyakkan pakaiannya sambil berkata, “Janganlah memberontak kepada TUHAN dan janganlah takut!...” (Bilangan 13:5-9)
Situasi tiba-tiba menjadi kacau dan tidak terkendalikan melihat sikap demonstratif dari Yosua dan Kaleb, mereka bukannya mendapat dukungan melainkan sebaliknya, mereka mendapat perlawanan keras karena segenap umat Israel akan melempar mereka berdua dengan batu. Tetapi lihatlah pembelaan TUHAN bagi orang yang berhasil keluar dari sebuah proses api pengujian kesabaran; Bilangan 14:10bTetapi tampaklah kemuliaan TUHAN di Kemah Pertemuan kepada semua orang Israel!” Kemuliaan TUHAN ini menyatakan pembelaan TUHAN bagi Yosua dan Kaleb! Mazmur 103:8 mengatakan, “TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.” HALELUYA...

Setelah berakhirnya pemerintahan raja Asa, anaknya Yosafat menggantikannya. II Tawarikh 17:6 memberikan informasi kepemimpinan Yosafat, “Dengan tabah hati ia hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN. Pula ia menjauhkan dari Yehuda segala bukit pengorbanan dan tiang berhala.” Penggunaan kata ‘Tabah’ yang berasal dari akar kata Ibrani ‘Gabahh’ menerangkan sikap hati yang BANGGA hidup di jalan TUHAN. New American Standard Version mengatakan, “ And he took great pride in the ways of the LORD and again removed the high places and the Asherim from Judah.” Dan memanglah demikian Yosafat begitu bangga dengan TUHAN yang ia yakini dan ia sembah, karena TUHAN telah menyelamatkannya dari mata busur panah bangsa Aram dan pedang lawannya itu yang telah mengepungnya (2Tawarikh 18:31).

Peristiwa tersebut terjadi karena menjadi besannya raja Ahab yang mengajaknya untuk pergi ke Ramot-Gilead untuk bertempur bersama melawan bangsa Aram. 400 nabi yang ada bersama Ahab telah memberikan dukungan profetis untuk ia pergi menyerang karena TUHAN telah menyerahkan bangsa Aram ke dalam tangan Ahab. Tetapi Yosafat bertanya kepada Ahab, “apakah masih ada satu nabi lagi?” Dan Ahab memanggil nabi Mikha yang selalu menyampaikan hal yang bertentangan dengan hatinya. Dan ketika Mikha ditanya oleh Ahab, ia mengatakan bahwa Ahab akan mati bila pergi bertempur melawan Aram. Ahab sangat marah karena Mikha menyampaikan pesan profetis yang berbeda dengan 400 nabi lainnya. Mikha kemudian menjelaskan bahwa TUHAN telah mengutus ‘roh dusta’ (2 Tawarikh 18:20-22) ke dalam 400 nabi tersebut agar menyampaikan pesan kenabian yang salah, sehingga Ahab akan pergi bertempur dan mati! Tiba-tiba nabi Zeekia bin Kenaana menampar pipi Mikha karena mengatakan 400 nabi tersebut telah diurapi dengan roh dusta. Mikha ahirnya dipenjarakan. Ahab dan Yosafat pergi bertempur melawan Aram. Dan Ahab menyuruh Yosafat untuk mengenakan bajunya sehingga bangsa Aram berpikir Yosafat itulah Ahab, ketika mereka mengepung Yosafat, ia segera berteriak dan TUHAN menolongnya, TUHAN membujuk pasukan Aram untuk pergi meninggalkan Yosafat. Tetapi nasib malang terjadi bagi Ahab, walaupun ia mengenakan pakaian prajurit untuk menyamar, namun ia tidak bisa menyamar dari TUHAN, sehingga anak panah liar musuh kena disela-sela baju zirahnya. Haleluya.... Terpujlah TUHAN yang telah menyelamatkan orang yang tetap tabah untuk untuk dalam jalan TUHAN! Mazmur 9:4 mengatakan, “sebab musuhku mundur, tersandung jatuh dan binasa di hadapan-Mu.” Haleluya....

Penggunaan kata ‘Tabah’ yang berasal dari akar kata Ibrani ‘Gabahh’ menerangkan juga suasana hati yang penuh dengan SUKACITA untuk hidup di jalan TUHAN! NKJ version menulis 2 Tawarikh 17:6And his heart took delight in the ways of the LORD; moreover he removed the high places and wooden images from Judah.” Sukacita yang dimiliki oleh Yosafat untuk hidup di jalan TUHAN bukanlah sebagai suatu akibat karena ia hidup di jalan TUHAN tetapi karena ia penuh dengan sukacita untuk hidup di jalan TUHAN. Dengan kata lain bahwa ia suka hidup di jalan TUHAN, ia senang sekali untuk hidup di jalan TUHAN.

Dan ternyata Yosafat memang mengalami sukacita untuk hidup di jalan TUHAN karena TUHAN memberkatinya dengan sangat luar biasa, bahkan orang-orang Filistin datang membawa upeti kepadanya dan TUHAN membuatnya sangat diberkati dan sangat terhormat! (2Tawarikh 17:11; 18:1) Haleluya.... Terpujilah TUHAN yang selalu menyatakan rahmat, kasih setia dan kasih karuniaNya yang melimpah bagi orang yang mau “Tabah” untuk tetap hidup dalam jalan-jalanNya! TUHAN pasti membela!

Sahabatku, dalam suatu pertemuan acara “Power of Character” ada pertanyaan yang ditujukan kepada Jakoep Ezra sebagai salah satu pembicara: “ Sebatas manakah ujian menjadi sebuah ukuran bahwa kita adalah orang-orang yang tabah?Jakoep Ezra menjawab: “Saya tanya kembali, kapan emas itu 24 karat? Ketika dipanaskan! Ketika dia tidak bercampur dengan unsur lain. Emas ada yang hanya 12 karat, karena yang 12 lainnya itu dicampur dengan tembaga, kalau 24 karat itu berarti murni emas itu sendiri. Kapan kita itu disebut sudah menghasilkan buah ketabahan, yaitu ketika ujian-ujian yang menimpa hidup kita sudah kita lewati dengan baik. Ketika kita sudah digodok atau dipanasin!




"Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan,
sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima
mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada
barangsiapa yang mengasihi Dia."
Yakobus 1:12


Perubahan bukanlah sesuatu
yang mungkin bagi Anda,
perubahan adalah sesuatu yang
pasti bagi Allah untuk Anda!

Salam Perubahan Sahabatku,
“CHANGE, Yes We Can!”

Where are you?

My World Visitor Profile Map